Seminar Edukasi Bahan Tambahan Pangan

Ditayangkan pada, 11 March 2018

Seminar Edukasi Bahan Tambahan Pangan (BTP) di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Gizi di Aceh, Bali dan Medan

Bahan tambahan pangan (BTP) merupakan bahan yang lazim digunakan dalam industri pangan. BTP ibarat pisau bermata dua, jika digunakan dengan benar dan tepat dapat mendatangkan manfaat, sebaliknya jika penggunaannya kurang tepa bisa mendatangkan bahaya bagi konsumen dan kerugian bagi industri pangan. Edukasi mengenai penggunaan BTP dengan benar dan tepat ini menjadi penting, agar masyarakat bisa mengkonsumsi produk pangan dengan lebih nyaman dan tenang. 

Seminar edukasi ini diinisiasi oleh Poltekkes Gizi Jakarta bekerjasama dengan Poltekkes Gizi di Aceh, Bali dan Medan. Ajinomoto mendukung penuh seminar ini, sebagai sebuah perusahaan global dengan core business asam amino dan pioneer bagi bumbu MSG –sumber rasa umami (gurih), Ajinomoto perlu terlibat dalam mengedukasi masyarakat, khususnya kalangan terpelajar seperti para ahli gizi dan mahasiswa gizi di Poltekkes Aceh, Medan dan Bali. Seminar ini disambut dengan antusias dan diikuti kurang lebih 1,039 orang di 3 daerah tersebut. Melibatkan pembicara ahli dan kompeten dari pakar gizi dari Jakarta, pejabat Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) daerah setempat dan juga dosen gizi dari Poltekkes setempat. 

Aceh

Ibu Rosi Novita, SP., M.Kes selaku dosen gizi Poltekkes Aceh, beliau melakukan survey terkait “Perilaku penggunaan MSG pada masyarakat Aceh” kepada 90 orang (86%-nya wanita), yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pegawai negeri, ibu rumah tangga dan wiraswasta. “Sebanyak 30% mengetahui MSG sebagai penyedap rasa yang bermanfaat menambah nafsu makan dan mengurangi asupan garam” tutur Ibu Rosi. Akan tetapi, sebagian besar responden tidak menyetujui penggunaan MSG pada masakan dikarenakan berbagai alasan kesehatan. Prof. Ahmad Sulaeman sebagai pakar gizi dari IPB, menjelaskan secara rinci fakta-fakta ilmiah MSG. “MSG/micin/vetsin merupakan BTP penguat rasa yang sudah diakui aman oleh badan kesehatan dunia (seperti JECFA, USFDA, FSANZ, dll) dan termasuk BPOM” ungkap Prof. Ahmad.

Bali

Dengan mengangkat topik “Tinjauan penggunaan MSG pada pangan jajanan anak sekolah (PJAS)”, Dra. Luh Putu Witariathi, Apt selaku kepala bidang sertifikasi dan layanan informasi Konsumen Balai Besar POM Denpasar membawakan topik “Bahan Tambahan Pangan (BTP). “Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) no 33 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan (BTP), disebutkan ada 27 jenis BTP yang diijinkan penggunaannya oleh BPOM dan ada 19 bahan yang dilarang digunakan sebagai BTP (salah satunya formalin dan boraks)” jelas beliau. Beliau juga menjelaskan mengenai penggunaan BTP dengan benar dan tepat. 

Hal serupa diungkapkan Dr. Marudut, MPS yang merupakan peer review pada direktorat standardisasi produk pangan dan keamanan pangan BPOM. Selain itu, beliau juga menjelaskan secara khusus mengenai MSG sebagai BTP penguat rasa yang diijinkan penggunaannya oleh BPOM. “MSG dikategorikan sebagai BTP, sebagai tambahan dalam pangan untuk mencapai apa yang diinginkan yakni sebagai penegas rasa bukan ditambahkan berlebihan. Asupan harian MSG tidak dinyatakan (secukupnya) karena berdasarkan penelitiaan JECFA toksisitasnya sangat rendah dan tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan”, jelas Bapak Marudut yang menepis rumor MSG berdasarkan fakta ilmiah yang akurat.

Medan

Drs. Yulius Sacramento Tarigan, Apt selaku kepala Balai Besar POM Medan menjelaskan topik “Menggunakan bahan tambahan pangan dengan benar dan tepat di Industri dan IRTP”, beliau menjelaskan BTP dengan batas asupan harian secukupnya yaitu BTP harus digunakan sesedikit mungkin untuk menghasilkan karakteristik yang diinginkan. “Penambahan BTP yang berlebihan justru menjadi tidak ekonomis dan menghasilkan rasa yang tidak enak” ungkap beliau. 

Dr. RIndit Pambayun selaku The President of Indonesian Association of Food Technologist (IAFT) memjelaskan secara rinci mengenai aspek gizi dan metabolisme serta keamanan MSG. “MSG ditambahkan untuk memperkuat citarasa makanan dan penambahannya sebaiknya mengikuti pola gizi seimbang” ungkap beliau. Selain itu, MSG yang dihasilkan dari proses fermentasi tebu sama seperti fermentasi tempe dari kacang kedelai.

“Penambahan MSG menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan pangan jajanan anak sekolah (PJAS) yang kaya citarasa” ungkap Dr. Tetty Herta Doloksaribu, STP, MKM yang mengungkapkan data anak sekolah yang tidak & jarang sarapan  yang mencapai 29,4% di Medan. 


Test Rasa

Di 3 seminar tersebut juga diselenggarakan test rasa melalui 2 (Dua) sampel “Telur Dadar”, sebagian besar peserta menyatakan bahwa sampel yang menggunakan garam plus MSG lebih enak dan lebih disuka dibanding sampel yang hanya menggunakan garam saja. Dari hasil kuisioner hampir 85% peserta seminar menyatakan bahwa MSG aman. 

Harapannya, dengan seminar ini masyarakat pada umumnya mendapat informasi yang benar dan tidak percaya dengan mitos, isu serta berita hoax negatif tentang MSG.


Kampanye BPOM


Kembali ke berita utama


Copyright Ajinomoto© 2018 - All right reserved.

Scroll to Top